Splas Goes to Popular Jalak Harupat Stadium


Splas FC made a trip to the Jalak Harupat Stadium, in Bandung, West Java, on Saturday (03/12/2016), playing exhibition matches with local football boots collector group FBI Bandung.

With total nine matches being undertaken, Splas, which brought three teams on the day, recorded four wins, one draw and four defeats in total.

Splas, a community based football club named after an extracurricular activity at 14 senior high school in Jakarta, broke a perfect result from its elite team with three wins 1-0, 1-0 and 4-1 against the Bandung’s side. Winger Ardyan “Acil” Prasetya sparkled after scoring three goals, including his late crucial goal in the second match. While midfielder Hardi Ananda Suyuti showed indispensable role in the team with his tenacious pass and move, eventually breaking the deadlock with a mesmerizing lob finish in the first match.

Furthermore, the Splas B team recorded one win and two defeats against the FBI. While Splas C team suffered two defeats and one draw.

“I’m glad with our first stadium visit to Bandung. We expected to play more at monumental stadiums in the country,” Splas chairman Muammar Khadafi told Ganesport Foundation.

Jalak Harupat has been frequently used as home base of Persib Bandung, an Indonesian elite football club who won the 2014 Indonesia’s super league.

Splas has been supporting our social causes by attaching Ganesport’s logo on its jersey.

Satu orang satu bola, kata Suwirwan


Wajah sangat sumringah terpancar dari anak-anak RSC Football dalam sesi latihan Sabtu (23/04/2016). Walaupun kondisi lapangan basah, semangat mereka tidak kalah.

“Sekarang kita bisa latihan dengan bola yang cukup. Tolong dijaga bolanya ya,” ujar Suwirwan, Koordinator peserta RSC Football.

“Rasionya, satu orang latihan dengan satu bola, ini akan baik bagi kalian,” lanjut pria yang bermukim hanya beberapa meter dari lapangan sepak bola.

Terima kasih pada Kick Andy Foundation dan Nike, karena bantuan bola sepak kepada RSC Football. Bolanya empuk dan enak untuk ditendang-tendang.

Digagas sejak awal Januari 2016, RSC Football selama empat bulan terakhir latihan hanya dengan empat buah bola, padahal peserta latihan berkisar 18 s/d 24 orang. Lalu beberapa minggu terakhir, hanya latihan dengan tiga bola karena satu bola bocor. Alhasil bantuan Kick Andy Foundation telah membuat kami sekarang latihan dengan 20 bola.

Wajar anak-anak menjadi sumringah, mengingat selama ini tidak pernah kebagian bola segitu banyak.

Banyaknya bola dalam latihan sepak bola sangat penting, karena anak-anak harus sebanyak mungkin menyentuh bola agar kemampuan mereka meningkat di atas lapangan hijau. Dengan jumlah bola yang ideal, pelatih juga mampu berikan materi yang maksimal.

Semoga bolanya awet tahan lama…

Kembalikan Sepak Bola ke Akarnya


Pada hari Sabtu kemarin (05/03/2016), bertempat di kota Yogyakarta, Ganesport Foundation dan komunitas Supergard menyelenggarakan seminar yang juga dihadiri oleh Indra Sjafri sebagai nara sumber.

Sebagai seorang Pelatih Kepala, Indra Sjafri menjelaskan bahwa pos tersebut harus dilakoni dengan kemampuan manajerial yang baik.

Indra menjelaskan dengan bercerita dari pengalaman-pengalamannya membesut Tim Nasional U-19 dan Bali United FC.

“Jika ingin maju, kita harus libatkan banyak orang yang ahli di bidangnya,” jelas pria yang lebih sering disapa Coach Indra.

“Seorang pelatih kepala adalah manajer. Dan manajer yang baik adalah manajer yang mau melibatkan banyak orang-orang hebat untuk capai beberapa tujuan,” lanjut pria asal Minang tersebut kepada para peserta.

Ia juga membahas tentang betapa seringnya manajemen klub profesional di Indonesia lebih banyak belanja daripada raih pendapatan.

“Lebih besar pasak daripada tiang, itulah letak kesalahannya.”

“Ibu saya selalu bilang, jika kita punya uang sebesar 11, maka kita belanjakan 10, sisa satu untuk jaga-jaga.

“Yang sering terjadi di sini [industri sepak bola Indonesia] adalah kebalikannya.”

“Karena kita sering menonton liga sepak bola Eropa yang gemerlap, sehingga kita ingin buru-buru meniru mereka padahal kita hanya mengetahui ‘kulit-kulit’-nya saja,” tegas Manager Coach Bali United itu.

Mengenai sepak bola di level akar rumput, Coach Indra juga memaparkan pendapatnya.

“Sepak bola di level usia dini seharusnya jangan terlalu diarahkan pada prestasi atau ajang-ajang seperti cup-cup yang sering ada itu. Anak-anak harus bahagia dulu dengan bola, setelah itu baru nanti ada proses otomatisasi seiring mereka dewasa,” terang Indra Sjafri.

Tema seminar pada hari itu memang beragam, dimulai dari aspek komunikasi dan tata kelola klub profesional, manajemen keuangan dan merek, nutrisi atlet, serta tata kelola sepak bola di akar rumput (grassroots).

Beberapa peserta mengaku dapat banyak ilmu baru, terutama tentang bagaimana tata kelola sepak bola di akar rumput yang ternyata sering salah kaprah di Indonesia.

“Saya baru tahu ternyata anak-anak itu tidak boleh diperlakukan seperti atlet profesional. Seminar ini sangat berguna bagi SSB kami,” kata Wahyu Widodo, salah satu peserta yang merupakan pengurus SSB Perwira Timur Purbalingga.

Sesi mengenai perkembangan sepak bola grassroots memang dilakoni oleh Irman Jayawardhana, seorang akademisi manajemen olahraga yang pernah bekerja di Coundon Court FC, sebuah klub grassroots di kota Coventry, Inggris.

Irman menerangkan bahwa jika SSB terus menekan anak-anak untuk menang/ juara, maka akan tercipta proses degradasi mental.

“Di level 13 tahun ke bawah, anak-anak harus diarahkan untuk bersenang-senang dengan bola, bukan berkompetisi layaknya pemain profesional,” kata Irman.

“Imbas dari perilaku tersebut [fokus pada prestasi] adalah kemunduran sepak bola kita. Banyak anak-anak yang seharusnya berbakat, tapi redup lebih dulu karena tekanan psikologis dari banyak pihak, terutama pelatih dan orang tua.”

“Kembalikan sepak bola kepada akarnya, yaitu kebahagiaan.”

Irman juga menjelaskan bahwa sepak bola harus dimulai dari sebuah organisasi non-profit atau komunitas, bukan entitas bisnis.

“Tahapnya harus dari komunitas dan non-profit dulu. Kekuatannya berasal dari gerakan bersama di antara para anggota untuk perlahan membangun klubnya.

“Namun jangan terburu-buru untuk jadi klub yang berbasis pada bisnis, karena nanti bisa-bisa terpeleset dan membuat klub jadi bubar,” pungkas Irman.

Setelah sesi mengenai sepak bola grassroots, panitia menghadirkan Abimanyu Bimantoro yang berbicara mengenai manajemen merek di sepak bola.

Mengambil contoh kasus FC Barcelona dan New York City FC, Abimanyu menerangkan betapa pentingnya bagi sebuah klub untuk memiliki nilai-nilai yang menjual.

“Prestasi tim di atas lapangan memang penting, tapi ada yang lebih penting, yaitu menciptakan nilai-nilai (values) dan mengkomunikasikannya kepada para fans,” terang Abimanyu kepada audiens.

“FC Barcelona memiliki banyak nilai-nilai, salah satunya adalah mereka bertahan sangat lama untuk tidak membuka ‘spot’ komersial di kaus dada mereka, sehingga akhirnya ketika sekarang dibuka nilai komersilnya begitu tinggi. Itu adalah bentuk strategi pemasaran,” lanjut Abi.

Kegiatan seminar berlangsung dengan menarik dimana para peserta begitu kritis bertanya kepada para nara sumber, dimana hal tersebut diakui sebagai hal yang positif.

“Saya melihat masih ada semangat dari para pelaku sepak bola di Indonesia, meskipun situasinya saat ini carut marut,” ujar Amal Ganesha, Ketua Umum Ganesport Foundation.

“Seringnya peserta bertanya dan berbagi pengalaman adalah hal yang sehat dan saya melihat itu sebagai sinyal positif, bahwa mereka masih semangat dengan sepak bola.”

“Kita mendapat beberapa pertanyaan yang sangat challenging, terutama dari teman-teman SSB, karena sejujurnya perkembangan sepak bola level akar rumput di Indonesia belum banyak datanya. Kami antusias sekali untuk bisa kontribusi pada kemajuan mereka [SSB],” pungkas Amal.

Yayasan Ganesport adalah organisasi nirlaba yang didirikan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat melalui olahraga. Acara seminar kemarin diakui sebagai bagian dari tujuan yayasan, yaitu semua pemasukkan dari peserta dialokasikan untuk misi-misi sosial.

Bersama Indra Sjafri, Ganesport Jadi Pemateri Seminar


Seminar akan dilaksanakan pada bulan Maret 2016 mendatang di kota Yogyakarta.

Bersama dengan kelompok pecinta sepak bola Supergard dan Indra Sjafri, para punggawa Ganesport Foundation akan menjadi pemateri Seminar mengenai tata kelola sepak bola yang benar dan profesional. Kebanyakan dari pemateri merupakan sport scholar dengan keahlian di bidangnya masing-masing.

Menanggapi acara ini, Dibyo Dwiputranto, salah satu BOD Ganesport yang sudah menyelesaikan studinya, MBA Football Industries, mengatakan: “Ini kegiatan (seminar) yang saya tunggu-tunggu. Saya senang dan excited sekali.”

Anda dapat mengikuti seminar tersebut dengan menghubungi pihak-pihak terkait yang tertera di poster.

Yellow Force Gathered in Style


MIPA Football Went Through Next Stage


MIPA Football team won a tight game 1-0 against Law Faculty in UI Olympics 2015 and went through to the next stage.

The format of this year competition is play-offs, so then all the participants are given no choice but win!

MIPA Football became our partner and displaying Ganesport logo on their jersey as an action to support the society. It was a tough game yesterday (5/11/2015) at Stadion Universitas Indonesia, of which the opposition gave hard challenge for the MIPA boys.

There were lots of chances to score, but no sides created a goal until a moment from The Blues in late minutes of the game. It was a long-pass from a midfield player and the ball went through the box of Law team, the striker of The Blues suddenly appeared and made a little touch to push the ball come into the net. 1-0 to MIPA!

That scoreline was not changed until the game finished and The Blues was in jubilee while they got back home.

Ganesport Teams Up with MIPA Women’s Volleyball and Men’s Football


The partnership deal includes composite logo attachment on MIPA Women’s Volleyball and Men’s Football team.

MIPA Women’s Volleyball and Men’s Football will compete in @olimpiadeUI 2015 as they are considered one of the best.

The association of Ganesport Foundation and MIPA in @olimpiadeUI 2015 is expected to add awareness of Ganesport for sport community at universities.

Women’s Volleyball will play against Faculty of Dentistry on their first game tomorrow. The game will be held at Pertamina Hall FEUI campus. While MIPA Men’s Football will see Law Faculty as their first opposition on Stadion UI’s pitch. Please come and support us!